Senin, 25 Oktober 2010

Setiap Hari 300 Orang Mati Karena TBC


Tuberkulosis (TB atau TBC) adalah penyakit serius yang gampang menular secara langsung tapi sebenarnya bisa diobati. Sayang banyak penderita TB yang malas minum obat. Akibatnya korban terus berjatuhan, tiap hari ada 300 orang mati karena TBC di Indonesia.

Jika dihitung secara tahunan, lebih dari 100.000 orang meninggal setiap tahun. Lebih dari setengah juta pasien TB baru di Indonesia setiap tahun.

TB merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia.

"Untuk itu komitmen dan kerjasama semua pihak secara bersama memerangi TB perlu ditingkatkan," kata dr Iwan M. Muljono, MPH, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) pada acara Press Briefing menyambut Hari TB Sedunia di Departemen Kesehatan, Jumat (19/3/2010).

Sebenarnya, kata dr Iwan Indonesia sudah berada pada arah yang tepat dalam pelaksanaan program penanggulangan TB. Dibuktikan dengan telah dicapainya target global sejak tahun 2006, yakni penemuan kasus baru lebih dari 70 persen dan angka kesembuhan lebih dari 85 persen.

Namun TB merupakan salah satu penyakit yang menjadi mesalah kesehatan di Indonesia. Besar dan luasnya mesalah TB di Indonesia diperbesar dengan adanya peningkatan infeksi HIV AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant) dan TB-XDR (Extensively Drug Resistant).

TB MDR adalah TB yang telah mengalami kekebalan dua obat anti TB, yaitu INH dan Rifampicin secara bersama sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti ethambutol, streptomycin dan pirazinamide.

Sedangkan TB XDR adalah TB MDR disertai dengan kekebalan terhadap obat anti TB lini kedua yaitu golongan fluoroquinolon dan setidaknya satu obat anti TB lini kedua suntikan seperti kanamycin, amikasin atau capreomycin.

Saat ini setiap tahun ditemukan sekitar setengah juta kasus baru TB. Separuh diantaranya adalah TB menular, menyebabkan lebih seratus ribu kematian. Sekitar 70 persen penderitan TB merupakan usia produktif.

Karena itu upaya pencegahan dan pemberantasan TB merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program masyarakat termasuk sektor swasta.

Menurut dr Iwan, strategi nasional telah sejalan dengan petunjuk internasional WHO, yaitu DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dan strategi Stop TB, serta konsisten dengan Rencana Global Penanggungan TB yang diarahkan untuk mencapai Target Global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Milenium 2015.

Strategi DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB, terdiri dari lima komponen. Lima komponen kunci strategi DOTS yaitu:
  1. Komitmen pemerintah untuk mempertahankan kontrol terhadap TB, dengan pendanaan yang meningkat dan berkesinambungan.
  2. Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopik yang terjamin mutunya.
  3. Tatalaksana pengobatan standar, pengobatan teratur selama 6-8 bulan, melalui supervisi dan pengawasan.
  4. Sistem manajemen logistik obat yang bermutu dan efektif, ketersediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus.
  5. Sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi, termasuk penilaian dampak dan kinerja program.
Sedangkan enam komponen strategi dan implementasi Stop TB adalah:
  1. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan kualitas DOTS
  2. Merespon masalah TB-HIV, TB-MDR dan tantangan lainnya
  3. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan
  4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta
  5. Memberdayakan pasien TB dan masyarakat
  6. Melaksanakan dan mengembangkan riset
Sumber: Detik Health

    0 comments:

    Posting Komentar

    Bagi yang mau komentar dipersilahkan..